You Late

 

Aku memandangi detik demi detik itu berjalan. Menghitung mundur hari lahirku yang sebentar lagi tiba. Aku penasaran siapa saja yang akan mengucapkan tepat di jam dua belas. Biasanya appa, eomma, dan sahabat-sahabat dekatku tidak pernah telat mengucapkannya. Hmmm, tapi tahun ini tidak akan seperti tahun-tahun sebelumnya. Aku melewatkannya dengan kesendirianku setelah putus dari si bodoh Yesung. Apakah dia akan mengucapkan tepat jam dua belas seperti tahun lalu dan tahun sebelumnya? Entahlah. Bulan lalu kami putus dan kami sama sekali tak pernah berkomunikasi setelah itu. Dia langsung wamil beberapa hari setelah itu. Dia marah karena aku terlalu dekat si magnae Kyu. Padahal kami hanya berteman biasa. Waktu itu dia memang dekat denganku, tapi semata-mata karena dia ingin mendekati teman sekelasku, Sim Hyuni. Tapi oppa tidak mau mendengar penjelasanku dan memilih pergi begitu saja.
Hmmm, udara malam di musim semi ini menambah kegalauanku. Langit malam yang dipenuhi bintang ini membuatku teringat pada malam itu. Malam dimana Yesung oppa menciumku untuk yang pertama kalinya tepat di hari ulang tahunku yang ke delapan belas. Tanggal yang sama dan dengan suasana yang tidak jauh berbeda dengan malam ini.

Flash back…

“Kau mau mengajakku kemana oppa?” tanyaku saat kami berjalan melintasi central park.
“Memperlihatkanmu sesuatu” jawabnya santai tanpa melepaskan tatapannya dari arah jalan.
“Apa?”
“Nanti kau juga akan tahu”

Kemudian kami memasuki taman kota yang nampak sepi itu. Mau apa oppa tengah malam begini mengajakku ke taman? Untung saja aku tinggal di asrama, jadi appa dan eomma tidak tahu tingkahku ini. Kalau mereka tahu bisa-bisa kakiku disambit oleh salah satu dari mereka. Sudah kabur dari asrama malam-malam buta, pergi dengan namja pula. Lengkap sudah.
Kami berhenti tepat di tengah-tengah tempat yang dikelilingi pepohonan yang perdu itu. Dia memintaku memejamkan mata dan aku menurutinya. Aku sudah menduga kalau ini adalah surprise untuk hari ulangtahunku. Aku sudah memperkirakannya dari awal. Pasti dihadapanku nanti akan ada kue ulang tahun dan lilin yang menyala. Itu terlalu biasa. Walaupun begitu aku tetap menghargai apa yang dia rencanakan. Tapi kenapa kalau sekedar kue tart biasa dia malah membawaku ke taman kota? Apa itu tidak terlalu berlebihan?

“Satu… Dua… Tiga” dia menghitung maju, sementara aku tetap memejamkan mata.

~Duorrrr…dor.. dor tuinggggggg… dor… ngingggggg… pyaaaaaaaar~

Sebuah suara keras mendentum di telingaku saat aku membuka mata. Aku menegadah ke udara dan mendapati cahaya warna-warni berhamburan di angkasa. Langit yang awalnya tanpa bintang menjadi semarak dengan taburan kembang api yang pecah pada waktunya. Tidak ada sepotong kue dengan lilin di atasnya. Tapi yang ada hanya aku, dia dan kembang api ini.

“Sangil chukake, chaggi-ah. Semoga kau selalu panjang umur, sehat selalu dan makin cinta padaku” katanya sambil nyengir dan mengaitkan tangannya di pinggangku.
“Indah sekali oppa. Gomawo” jawabku dengan meletakkan kedua lenganku di atas lengannya.

Entah siapa yang memulai, bibir kami telah beradu dengan intens diiringi kembang api yang berpendar-pendar di cakrawala. Mendekap malam yang indah menawan.

End Flash Back…

Berkali-kali ponselku berdering. Telephone dari eomma dan appa yang di Mokpo. SMS-SMS dari sahabatku, termasuk si gamekyu. Semua pesan singkat itu terkirim ke ponselku dalam waktu yang hampir bersamaan telah aku baca satu per satu walaupun tidak ada satupun yang langsung aku balas. Dari kesekian banyak pesan, tak satu pun pesan dari contact yang bernama ‘encung’ mendarat di ponselku. Apakah dia sudah lupa pada hari ulangtahunku? Aku terus menunggu sampai jam tiga dini hari, tapi tetap saja tidak ada pesan darinya.

Aku mengecek akun tweeter dan aku facebookku tapi tetap saja tak ada nama itu. Aku cukup kecewa. Bahkan hampir menangis. Tapi aku tahan. Aku sadar, kalaupun oppa ingat pasti dia tidak boleh memakai ponsel di asrama. Aku mulai memejamkan mata setelah semuanya terasa tak ada harapan lagi. Berharap akan ada mimpi-mimpi indah yang bisa masuk ke alam bawah sadarku.

Udara pagi menyambutku dengan kesegaran yang tidak bisa digantikan dengan apapun. Salah satu ciptaan Sang Maha Kuasa ini adalah sebuah kakayaan yang tak ternilai harganya. Beberapa helai daun kering turut melayang-layang di udara karena semilir yang menerpa. Pipiku juga terasa dingin saat angin pagi menampar pipiku dengan lembut. Kakiku menapak dengan hentakan pelan ke bumi menuju tempat teduhku.

Aku melangkahkan kakiku menuju palataran Junior Kindergarten, tempat dimana aku mangajar anak-anak di bawah tujuh tahun setiap hari jum’at. Aku memanfaatkan waktu luangku untuk mengajar saat hari libur kuliah seperti ini. Bertemu dengan anak-anak ini setiap jum’at adalah hal yang paling menyenangkan karena selain mereka sangat lucu-lucu dan menggemaskan, mereka juga dapat membuatku merasa lebih relax. Dan untuk hari ini, setidaknya keadaan ini bisa mencairkan suasana hatiku yang galau semalaman. Si bodoh itu sama sekali tidak mengucapkan apapun padaku.

Aku memperhatikan murid-murid didikku yang sedang membeli balon warna-warni di pelataran itu. Mereka terlihat sangat senang dan kepolosan yang terpancar dari wajah masing-masing anak tak terelakkan. Merah, kuning, hijau, biru adalah warna yang ditawarkan oleh sang pedagang. Seharusnya di pelataran ini penjual manapun tidak diijinkan untuk menjajakan barang dagangan mereka di sini. Kenapa masih nekat? Apa para satpam hanya mengganyang gaji buta dan tidak menghiraukan pedagang yang semena-mena menyalahi aturan?

Aku berjalan mendekati penjual dan beberapa murid didikku itu sambil melirik jam. 07.15. Sebentar lagi kelas dimulai. Setidaknya alasan itu lah yang bisa kugunakan untuk menyuruh mereka masuk dan membiarkanku bercakap dengan pedagang ini. Aku tidak mau menghilangkan senyum manis anak-anak kecil ini saat mereka tertawa riang begitu saja.

“Hei, anak-anakku. Ayo masuk, sebentar lagi bel” aku berjongkok agar mereka tidak perlu menengadah padaku.
“Saem!” seru sebagian kemudian satu persatu memelukku secara bergantian.
“Kalian masuk dulu ya, nanti saem menyusul” kataku ramah pada anak-anak yang sebagian besar membawa balon biru itu.
“Ne, Saem” jawab mereka hampir bersamaan walaupun sebagian sempat tak bergeming dan sebagian lagi malah mengajakku mengobrol, tapi pada akhirnya mereka mau masuk ke dalam kelas.

Kemudian aku berdiri dan menghadap pada sang penjual. Dari tadi aku tidak bisa melihat wajahnya karena tertutup oleh balon yang ada di tangannya.

“Mmmm, mianhamnida pak. Di sini tidak boleh berjualan. Bukankah peraturannya sudah jelas di samping pintu masuk?” tanyaku berusaha sesopan mungkin pada penjual ini.
“Apakah aku terlihat seperti penjual balon?”

‘Suara ini?’

Entah itu disengaja atau tidak, balon-balon yang tadinya menutupi wajah sang panjual balon ini membumbung naik ke atas dan sedikit demi sedikit memperlihatkan wajah sang tokoh di balik balon-balon. Benda yang terbang itu terisi gas helium sehingga memaksanya naik ke atas jika tidak ada penahan di bawahnya. Selain itu akibat dari tekanan atmosfer dan perbedaan massa jenis antara gas helium dan nitrogen di udara membuat benda bulat yang bergerombol itu berlomba-lomba mencapai angkasa terlebih dahulu. Sekitar dua puluhan balon mengudara dengan sempurna. Tapi itu tidak penting. Yang terpenting adalah ‘namja ini’.

“Happy birthday” ujarnya sambil menyodorkan sebuah balon berbentuk hati padaku. Mungkin bentuk balonnya menunjukkan keromantisan. Tapi penahannya membuatku fokus karena ini terlihat jauh lebih romantis dibanding balon itu sendiri. ‘cincin’.
“Oppa… bukannya kau wamil?” tanyaku sedikit tersendat.
“Ne. Tapi aku mengajukan surat ijin untuk pulang sehari” kemudian dia melepaskan kaitan benang yang melilit di cincin itu.
“Untuk menemuiku?” tanyaku masih tak percaya.
“Memangnya harus ada alasan lain?” dia memakaikan cincin itu sementara badanku hanya pasrah.
“Saranghae, Hyerin-ah. Jeoungmal bogoshipo” kemudian dia mengecup keningku pelan.
“Kau telat beberapa jam oppa” kataku pelan.
“Mianhae. Aku hanya ingin memberimu kejutan. Lagi pula ini masih tanggal satu, kan? Aku membaca SMS-mu semalam. Kau bilang aku aneh tapi kau marah-marah saat aku belum mengucapkan ulang tahun padamu. Dasar!” dia membawaku ke dalam pelukannya sambil mengelus-elus puncak kepalaku.
“Kau jahat sekali, oppa. Kau membiarkanku menunggu selama itu”
“Ne, aku memang jahat. Mianhae, chaggi. Aku kan ingin memberimu kejutan”
“Chaggi? Memangnya kita masih jadian apa?” kemudian aku mundur selangkah, tapi dia menarikku lagi.
“Apa aku pernah bilang kalau kita putus? Lalu kenapa kau mau kupeluk?” tanyanya balik dengan penuh kelembutan yang terpancar dari matanya. Aish, mata ini selalu membuatku meleleh.
“Pabo! Aku mau mengajar” kataku sedikit memberengut.
“Kalau kau marah, kau terlihat semakin cantik. Ya sudah, kau marah saja” dia malah cengar-cengir tanpa dosa.
“Oppa!” hardikku.
“Ne, arraseo. Tapi, chaggi…” kalimatnya terputus.
“Apa lagi?” tanyaku sedikit sewot.
“Apa kau tidak mau menciumku?” dia menggodaku sambil memonyong-monyongkan bibirmu.
“Baru wamil sebulan saja otakmu sudah konslet, Oppa. Kau tidak lihat ini tempat apa?” kataku kemudian benar-benar melepaskannya.
“Hahahaha… aku tunggu di sana sampai kau selesai mengajar ya. Aku mau jalan-jalan bersamamu” katanya sambil menunjukku ke bangku taman yang berada di dekat arena bermain.
“Ne, oppa. Murid-muridku sudah menunggu” aku melihat ke arah jarum jam yang sudah menunjukkan pukul 07.30.
“Oke”
“Nado saranghae. Nado jeoungmal bogoshipo, Oppa” kataku dengan senyum lebar kemudian berbalik. Perasaan malu bercampur bahagia membuatku melangkah lebih cepat. Aku ingin buru-buru menyelesaikan kelas, kemudian menemuinya di tepat itu.

The end

Taraaaaaaaaaaaa…. happy birthday ya admin Dika. Please ya gak usah cengar-cengir n buru-buru SMS aku buat bilang saranghae wkwkwkwkwk *dikeplak
Yeah, cuma lewat tulisan aja aku bisa bikin kamu tersenyum dengan membawa si encung pulang dari wamil (wkwkwkwkwk padahal wamil juga belom tuh orang). Semoga panjang umur n sehat selalu ya. Sini cium dulu. Cup cup muah muah!

Reader yang udah baca gak coment aku timpuk pake batu bata satu-satu nih! *kejam
Gak perlu memuji FF-nya, tapi ucapkan selamat ultah buat saeng-ku ini ya…

Gomawo… *bow

3 Comments

Filed under Admin Yuni, romance, superjunior fanfiction

3 responses to “You Late

  1. lee park bom

    hmh… Blum bca dh maen komen… Bca dlu, ahh!!

  2. yah… Gagal 1st… Hikk… Haha… Kren, lho, critny!

  3. Kekeke~
    bru smpet bca. .
    Mianhae onn, ./ditabok

    bgus, .
    Tpi, keenakan itu soulmate q klo ini crta bneran kejadian, .Ha6x, .*ngayal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s