Love cake

 

 

“oppa…”

“hmmm” jawabnya tanpa mengurangi intensitasnya dalam mengocok telur, gula dan emulsifier dengan bantuan mixernya.

“kau tampan sekali saat membuat kue” kataku merajuk. Aku tetap pada tempat dudukku yang berjarak hampir dua meter darinya.

“kau jangan menggodaku, Yuni-ah” jawabnya sambil melirikku sejenak dan melanjutkan kerjaannya.

“aku serius, oppa. Kau itu tampan kalau sedang membuat kue. Kau terlihat sangat menikmati pekerjaanmu itu” kataku serius dan mengambil buah ceri yang terhidang di hadapanku. Sementara  itu dia hanya tersenyum.

“waktu itu kau bilang kalau aku tampan saat berakting membuat roti di Bread, Love and Dream. Sekarang kau juga bilang kalau aku tampan saat membuat kue. Sebenarnya mana yang benar? Saat aku membuat roti atau saat aku membuat kue? ” dia hanya tersenyum meladeniku.

“hehehe… kalau di Bread, Love and Dream, kau tidak ampan oppa. Tapi sangat tampan. Pipimu terlihat cubby dan badanmu sangat berisi. Kau keren” aku mengunyah buah cery yang telah mendarat di mulutku. Aku hanya cengar-cengir menatapnya. Dia sangat manis. Bahkan lebih manis dari gula yang ada di toples kecil ini.

“mau pakai almond atau mede?” dia menunjukkan dua mangkuk kecil yang berisi kacang mede di kanan dan almond di mangkuk satunya. Aku menunjuk ke mangkuk yang sebelah kiri.

“berat badan memang terlihat lima kilo lebih banyak saat berhadapan dengan kamera. Makanya aku terlihat lebih chubby” dia tersenyum lagi. Kemudian memasukkan adonan yang telah dia buat ke dalam oven. Sementara itu, oppa menyiapkan cream dan bahan-bahan untuk toping kue itu.

“ne. kau sudah beberapa kali memberitahuku”

 

Dalam hal membuat roti dan kue, oppa terbilang ahli walaupun kemampuannya juga baru-baru ini ditekuninya. Setelah selesai bermain di Bread, Love and Dream, dia memutuskan memperdalam hobinya ini dengan mengikuti khursus masak. Bukan berarti dia akan berhenti berakting dan memutuskan untuk menjadi koki, tapi dia hanya sekedar menyalurkan hobinya. Dia tidak menjual kuenya, tapi memberikannya pada orang-orang yang mau mencicipi kuenya. Contohnya aku. Sudah jam sebelas malam tapi dia malah memaksaku untuk memakan kue buatannya dan melihat prosesnya secara langsung. Ini tidak seperti biasanya. Besok dia harus bangun pagi-pagi untuk pemotretan di majalah Forbes. Bukannya istirahat tapi malah membuat kue. Yeah, Walaupun aku lelah karena seharian telah berkutat dengan tulisan-tulisanku, tapi aku tidak mau mengecewakan oppa dan memutuskan untuk tetap stay sampai kuenya benar-benar matang.

 

“kau suka kenari?” tanyanya sambil memasukkan wiped cream ke dalam kantong plastik.

“tidak. Menurtku rasanya aneh”

“aku juga merasa begitu”

“sebenarnya kau mau membuat kue apa, oppa?” tanyaku mendekatinya. Kemudian Memeluk pinggangnya dari belakang.

“aku membuat Love cake. Aku membuatnya dengan seluruh cinta yang aku punya” jawabnya kemudian berbalik dan dan berganti meraih pinggangku.

“dasar gombal” kataku sambil mencubit kecil lengannya.

“aku tidak peduli” kemudian dia mendekatkan wajahnya ke wajahku. Belum sampai bibir kami bertemu_

 

~ting~ oven berbunyi.

 

“kembalilah ke tempat dudukmu. Spons cake-nya sudah matang. Aku akan mengerjakan bagian akhirnya” katanya menggodaku.

“beberapa detik oppa” kemudian aku memagut bibirnya dengan lembut dalam beberapa detik.

“saranghae” katanya setelah bibir kami terpisah.

“nado, nado saranghae oppa” jawabku pelan.

“Kau tidak akan membiarkannya gosong di oven kan?” katanya kemudian aku tersenyum dan melepaskannya.

Aku kembali ke tempat dudukku semula. Sementara dia sedang asik dengan kuenya. Aku jadi iri pada kue itu. Kenapa dia jauh lebih perhatian? Dia mengerjakan tahap finishing itu tanpa suara. Dia memang selalu begitu. Tidak pernah mau diganggu saat mengerjakan bagian akhir kue yang dibuatnya dengan siapapun. Bahkan denganku sekalipun. Aku terus memperhatikan wajahnya yang begitu serius tanpa mengurangi senyum yang terlukis di wajahnya.

 

“selesai” katanya penuh kekaguman. Dan menghampiriku dengan membawa kue berwarna coklat itu.

“apa aku boleh mencicipinya?”

“make a wish dulu, Hyuni-ah” katanya kemudian menyodorkan kue bertuliskan HAPPY BIRTHDAY YUNI. Dan di bawahnya terdapat tulisan yang ukurannya jauh lebih kecil dibanding tullisan di atasnya. JEOUNGMAL SARANGHAE.

“ulang tahunku kan tanggal tiga puluh, oppa. Masih besok. Kenapa kau membuatkannya sekarang?” tanyaku heran.

“sekarang sudah jam dua belas, Yuni. Bukankah itu sudah terhitung tanggal tiga puluh?” katanya ramah.

Aku memperhatkan jam dinding yang bertengger di tembok yang menghadap padaku. Benar, memang sudah jam 12 lewat beberapa detik. Tepat sekali waktu yang direncanakan oppa. Sejujurnya, aku sendiri lupa kalau aku berulangtahun hari ini. Aku terlalu sibuk dengan tugas jurnalistikku. Tapi namja chinguku ini tidak melupakan hari lahirku walaupun dia juga tidak kalah sibuknya dariku. Aku tidak tahu apa yang membuatnya menyukaiku. Banyak sekali perbedaan di antara kami. Dia adalah artis, sementara aku gadis biasa. Dia orang asli korea, sementara aku yeoja berdarah Indonesia yang menetap di negeri seribu gingseng ini. Dia putih, sementara aku hitam. Mata kami berbeda. Dan banyak sekali hal-hal berbeda di antara kami. Tapi hal itu tidak membuatnya ragu untuk mempertahankan hubungan kami. Bagaimana aku tidak semakin cinta padanya?

 

“manis sekali” kataku masih sedikit tidak percaya. Ini surprise.

“make a wish” pintanya lagi.

 

Aku memejamkan mata dan mengucapkan segala hal yang ingin ku sampaikan pada Tuhan:

 

Terima kasih Tuhan, kau telah mengijinkanku menghirup udara sampai detik ini.

Terimakasih karena Engkau telah menjaga orang-orang yang ku sayang.

Menjaga eomma, appa, dongsaeng, oppa, onnie dan semuanya yang berarti untukku.

Aku tidak meminta banyak, cukup berikan kebahagiaan pada mereka.

Aku ingin mereka selalu tersenyum…

 

Aku membuka mataku lagi. Menangkap wajah tampan yang ada di hadapanku lagi.

 

“happy birthday, chaggi-ah. Semoga kau selalu sehat, panjang umur dan tinggi badanmu semakin naik. Hehehehe”

“kau ini. Sudah tau kalau tinggiku tidak mungkin bertambah, masih saja mengejekku”

“mian, chaggi. Aku kan becanda. Kau mau lilin?”

“anni. Cakenya mau aku bawa pulang. Akan aku taruh di kulkas. Aku tidak mau merusaknya dulu.”

“chaggi, aku bisa membuatkannya lagi untukmu. Ini kau makan saja”

“ah, tidak mau. Ini terlalu cantik. Aku masih mau menyimpannya. Kapan kadaluarsanya, oppa”

“dasar keras kepala.”

“walaupun aku keras kepala, tapi kau tetap mau kan denganku” aku menjulurkan lidahku padanya.

“hehehe aku heran. Kenapa kau lain dari yang lain. Kau bukan seperti yeoja lain yang suka meminta barang untuk di simpan, tapi malah menyimpan makanan”

“bahkan coklat yang kau berikan saat hujan deras itu masih aku simpan, oppa” kataku dengan suara yang diseret-seret.

“mwo? Jinja? Itu kan sudah beberapa bulan lalu” katanya sedikit kaget.

“ne. aku tidak tega memakannya. Aku bisa membelinya di toko, oppa. Tapi aku mau menyimpannya agar aku selalu ingat dan tersenyum saat mengenang coklat itu” kataku sambil mengelus pipinya yang terasa hangat.

“dasar kau ini. Tart ini bisa tahan sampai dua minggu. Lewat dari itu kalau kau tetap memakannya, jangan harap kau tidak perlu ke dokter. Aku tidak mau terjadi apa-apa padamu, Yuni”

“arraseo, oppa”

 

 

Taraaaaaaaa…….. terimakasih sudah membaca ya. Yang mau ngucapin met ultah buatku bisa di sini. FF ini sebenarnya aku bikin karena udh gak punya pacar hhuhuhuhuhu jadi ngaku-ngaku deh jadi pacarnya Yoon shi Yoon. Sengaja wall-nya aku protek biar kalian ke sini. Sekalian promosi gitu hahahaha *PLAKKK.

 

Really aku lagi kangen sama mantanku. Dulu waktu kita masih pacaran, aku pernah sms dia n bilang “aku mau coklat”. Eh, dianterin langsung ke rumah padahal lagi ujan deres. Coklatnya emang bener-bener aku simpan ampe berbulan-bulan. Walaupun sepele, tapi hal ini adalah salah satu yang berharga banget buatku. Tapi sekarang coklatnya udah gak ada, udah aku makan pas aku lagi marah sama dia. Dan kita juga udah jalan di kehidupan masing-masing *ah sedih jadinya

 

RCL ya reader (Read, Coment, n Like). Gomawoooooo… *bow

 

Leave a comment

Filed under Admin Yuni, romance, superjunior fanfiction

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s