Kyuhyun’s Love (part 1)

Author : Kyu Hyuni

Tags : Cho Kyuhyun, Kim Heechul

 

Tampan, Kaya raya, digilai banyak wanita dan kuliah di salah satu universitas yang diklaim sebagai universitas paling prestisius di Korea selatan yaitu Universitas Nasional Seoul adalah impian banyak orang. Keberuntungan itu berpijak padaku. Aku dilahirkan dari keluarga yang berada dan sekarang aku menjadi bagian dari sekitar tiga puluh ribu mahasiswa yang menimba ilmu di Universitas ini. memasuki semester ke tiga ini, aku sekelas lagi dengan teman dekatku di semester satu yaitu, Kim Heechul. Aku mengetahuinya setelah dia mengirimi aku SMS tadi malam. Dia adalah seorang namja yang selalu berpenampilan feminim dengan segala atribut bernuansa pink dan sangat keibuan. Walaupun begitu bukan berarti dia adalah banci kaleng yang biasa mengamen di pinggir jalan tetapi memang dari dulu stylenya seperti itu. Aku juga tidak pernah bertanya kenapa dia menyukai warna pink. Dia memang namja cantik.

 

Tapi hari ini dia tampak berbeda. Tidak ada atribut pink yang dia kenakan. Sama sekali. Hal ini terlihat abnormal untuk ukurannya. Atau jangan-jangan dia sudah mau berubah senormal namja sepertiku?

 

“kau sakit?” aku langsung mengambil bangku yang ada di sampingnya terduduk.

“gweenchanhayo” jawabnya malas.

“kenapa kau tampil beda hari ini? kemana cardigan pink kebanggaanmu itu?” aku bertanya penuh selidik.

“mulai hari ini aku berhenti memakai segala hal yang berwarna pink. Aku mau berubah!” Jawabnya dengan nada yang masih sama seperti sebelumnya.

“waeyo? Kau salah makan obat?” aku semakin penasaran saja.

“sudahlah aku tidak akan membahasnya denganmu.” Dia masih terlihat malas, mungkin karena perubahannya yang drastis seperti sekarang. terlihat sekali kalau dia memaksakan sesuatu yang tidak biasa dilakukan. Dia malah menyembunyikan wajahnya di antara meja dan lengan.

“Annyeong Haseyo…” sebuah suara berasal dari muka kelas mengalihkan perhatianku dari Hee. Tampak seorang yeoja yang cukup cantik, bukan cukup cantik tapi sangat cantik di mataku. Rasanya baru kali ini aku melihat yeoja yang sangat menawan dan memiliki aura yang aku sendiri tidak tahu apa itu. Dia sangat luar biasa walaupun tampangnya seperti belasan tahun. I can’t to be described her beautiful. Benarkah dia dosen kami di kelas musik modern? Tatapan matanya seperti mengeluarkan sinar-sinar cinta walaupun disertai dengan pandangan membunuh dan terkesan formil.

“Beautiful girl. So baby face. I’ve never seen a girl as beautiful as her.” gumamku tanpa sadar.

“Dongsaeng-ku jauh lebih cantik” Heechul menimpali. Tapi masih menundukkan kepalanya.

“Kau lihat dulu. dia sangat cantik.” Aku menggoyang-goyangkan badannya. Tapi dia tidak bergeming.

“Annyeong haseyo. Choi Ji Hyun imnida. Saya adalah dosen kalian di kelas music modern di semester ini” Dia memperkenal diri dan membungkuk pada kami dengan tidak mengesampingkan sikap dinginnya. Sangat sopan dan namanya mirip denganku. Aku Cho Kyu Hyun dan dia Choi Ji Hyun. Mungkin dia adalah yeoja yang dikirimkan Tuhan untukku. Haha siapa yang tahu.

“ada yang mau bertanya?” tambahnya dan hal itu membuat Hee mendongak walaupun dia sendiri tidak berniat bertanya. Saat ku perhatikan seperti ada tatapan tidak percaya di sorot matanya.

“usia anda berapa? Dan apakah anda sudah memiliki pacar?” tanya salah seorang teman sekelasku dan pertanyaannya yang sedikit konyol itu membuat seisi kelas tergelak walaupun pertanyaannya itu masuk akal mengingat postur tubuh dosen kami seperti anak SMA yang baru lulus.

“usia saya Sembilan belas tahun. Dan urusan pacar, itu tidak termasuk bagian yang bisa kita bicarakan di kelas ini.” dia berbicara tanpa mengubah ekspresinya tapi hal itu malah semakin membuat sebagian besar dari kami kaget. Karena rata-rata mahasiswa yang berada di kelas kami telah berumur dua puluh tahun ke atas. Ternyata dia bukan baby face, tetapi dia memang masih Sembilan belas tahun. Berbeda tiga tahun dariku.

“Sembilan belas?” beberapa anak mengucapkannya secara bersamaan dan sebagian lagi malah bergumam tak jelas.

“saya paham jika kalian heran. Tapi begini, selama SD, SMP, dan SMA saya pernah mengikuti program akselerasi. Jadi, waktu yang seharusnya saya tempuh selama dua belas tahun, hanya saya jalani selama Sembilan tahun. Dan saat kuliah saya sengaja study di salah satu universitas yang berada di New York yang memiliki program akselerasi juga. Bedanya, saya hanya menghabiskan waktu saya selama empat tahun untuk meraih gelar master. Untuk lebih jelasnya mengenai riwayat hidup saya, anda bisa mengunjungi website saya di…” dia menuliskan alamat websitenya di papan tulis. Pernyataannya barusan membuat sebagian besar dari kami terbengong-bengong dan sebagian lagi menggumam tidak jelas. Benar-benar jenius.

“yeoja gila. Menggurui orang-orang yang lebih tua darinya” Hee saja juga tidak percaya dengan apa yang sekarang berada di hadapannya.

“itu bukan gila. Tapi keren” aku masih terkagum-kagum dengan apa yang aku lihat sekarang. hal ini akan membuatku jauh lebih semangat untuk masuk di kelas ini.

“hai, kau! Kenapa senyum-senyum begitu” yeoja itu mengagetkanku.

“Oh, oh anni… Saya hanya sedang membaca situs yang anda berikan” aku tergagap karena bingung mencari alasan tentang imajinasi yang aku kembangkan di otakku dan hal itu malah membuat teman-teman yang berada di depanku cekikikan karena ekspresiku yang sangat tolol.

“saya tahu kalian semua berumur lebih tua dari saya, jadi agar tidak merasa digurui oleh anak berumur Sembilan belas tahun seperti saya ini maka kalian bisa memanggil saya Lexi. Itu nama inggris saya. Dan satu lagi, aturan di sini adalah santai tapi sopan. Yang tidak senang berada di kelas saya bisa keluar sekarang. Jangan mencoba berbuat kurang ajar pada saya karena saya bisa melakukan apa saja pada kalian. Termasuk menggagalkan seluruh mata kuliah kalian sekalipun kalian sudah pindah ke universitas lain. Ingat itu.” tatapannya benar-benar membuat suasana kelas menjadi horror. Cantik tapi sadis.

 

Awalnya suasana kelas sedikit berisik karena kebanyakan dari kami malah sibuk mengobrol dan sebagian sibuk dengan urusannya yang tidak ku pedulikan. Aku juga sibuk, sibuk mengagumi yeoja idamanku yang sedang mencatat di depan.

 

PLOKK… sebuah benda yang tak tahu itu apa mencium papan tulis. Dan hal itu cukup mengagetkanku. Aku menoleh ke belakang dan mencari sang pelaku penimpukan, sementara dosen cantik kami tak bergeming.

 

PLOKK… kali ini seperti kertas yang telah diremas-remas terpantul di papan.

 

“If you’re not happy in my class, you can’t exit now! I said it in the beginning.” dia menyelesaikan catatan tentang not-not baloknya diiringi dengan titik di papan tulis dan langsung menatap tajam ke arah kami.

“siapa yang melempar?” tanyanya, tapi tidak ada satu pun yang menjawab. Aku tahu siapa yang melempar kertas itu, dia duduk di pojok tapi aku sama pengecutnya seperti seisi kelas ini untuk tidak mengadu pada dosen ini.

“sekali lagi saya tanya, siapa yang melempar?” suasana tetap hening karena tidak ada yang mau mengaku.

“baik, jangan salahkan saya jika kelas kalian terlantar” kemudian dia pergi dengan menjinjing tasnya dan membanting pintu cukup keras. Aku memang tidak suka gayanya yang terlalu dingin itu. Tapi aku lebih tidak mau lagi jika kelas kami terlantar. Masuk ke sini saja merupakan impian, jadi menurutku kami seharusnya tidak menyia-nyiakan kesempatan ini.

“hei kau, kenapa kau tidak mengaku saja?” tanyaku pada temanku yang di pojokan.

“aku hanya mengetes apa dia benar-benar segalak itu, eh tak tahunya dia lebih menyeramkan dari yang ku kira. Sepertinya dia akan menyantap kita mentah-mentah” jawabnya sedikit bergidik dan kelihatannya memang seperti itu persepsinya.

“Ah, payah. Padahal aku sedang mengaguminya” gumamku kemudian mengeluarkan PSP dari tasku sambil menunggu mata kuliah selanjutnya. Hal ini akan membuatku lebih relax.

“kau suka padanya ya?” tanya Hee tiba-tiba.

“sepertinya aku sedang dimabuk cinta. Dia wanita idamanku. Aku seperti jatuh cinta pada pandangan pertama” aku sedikit menerawang membayangkan yeoja yang telah membanting pintu tadi tersenyum padaku.

“bagaimana bisa? Kau kan baru bertemu dengannya?” terlihat sekali kalau dia heran karena dahinya berkerut. Tapi sebenarnya aku sendiri juga tidak tahu kenapa aku menyukainya.

“entahlah. Dia telah membiusku” aku hanya terkekeh karena tidak menemukan jawaban yang tepat.

“dasar gila. Bagaimana dengan yeoja-yeoja yang mengejarmu itu?”

“aku tidak tertarik pada mereka. bahkan aku juga jarang menanggapi mereka. I still single, ok?” aku memainkan game andalanku, sartcraft tanpa menghiraukan Hee.

“dasar gila. Bagaimana bisa namja sepertimu menyukai yeoja bertampang kejam seperti dia. Freak!” dia terus menggumam tapi aku tidak peduli.

 

***

 

Hari ini aku bertugas mengantar sepupuku ke tempat les pianonya di pusat kota Seoul karena sopir yang biasa mengantarnya sedang sakit. Dia adalah namja cilik yang cukup bandel. Terkadang aku kualahan saat menghadapinya. Tapi kalau kau bisa mendekati dan menarik hatinya dia akan bersikap semanis gula. Dia diadopsi oleh orangtuaku karena kedua orangtuanya telah lama meninggal. Walaupun bandel, tapi aku sangat sayang padanya. Kalau ada waktu luang dan sedang tidak ada kuliah, aku sering mengantarnya ke TK, tapi baru kali ini aku mengantarnya pergi les. Namanya Leon. Nam Napoleon.

“kau yakin ini jalannya?” aku bertanya karena sudah lima kali kami salah jalan.

“iya, aku yakin Hyung. Aku kan selalu ke sini tiap hari sabtu” jawabnya sambil menggaruk-garuk kepala.

“tapi kau sudah membuatku lima kali salah jalan” protesku.

“itu dia tempatnya. Apa aku bilang. Cepat, Hyung! Parkir!” dia menunjuk dengan girang pada sebuah ruko bernama ‘J-Melody’.

“ini tempatnya?” aku heran apa yang membuatnya sangat bersemangat.

“Yup” seketika dia langsung melepas sit belt dan berlari ke arah ruko itu setelah mobil terparkir sempurna.

“dasar bocah” kemudian aku turun dari mobil dan menyusul ke dalam ruko.

 

Saat aku masuk ke dalam dan bermaksud memberikan tas lesnya yang tertinggal di mobil, Aku mendengar gelak tawanya dari sebuah ruangan. Aku hanya mengamatinya dari pintu setelah sampai di ruangan dimana dia berada. Belum pernah aku melihatnya seceria ini, pantas saja dia sangat bersemangat les piano. Ada kebahagiaan yang dia peroleh dari tempat ini. Dia sedang bersama seorang wanita, mungkin itu guru lesnya. Aku tidak bisa melihatnya karena dia menghadap ke Leon dan memunggungiku.

 

“kenapa kau terlambat datang hari ini? apa kau kena macet?” tanya wanita itu pada Leon. Dari nada suaranya sepertinya aku kenal, tapi siapa ya?

“Hyung-ku tidak tahu jalan. Jadi kami sempat kesasar” jawabnya polos, sebenarya aku hendak protes tetapi aku mengurungkannya padahal bibirku sudah mau tancap gas.

“Oh, ya sudah. Kita bisa mulai sekarang?” katanya kemudian langsung menggendong Leon ke pangkuannya dan menghadap ke piano. Masih dengan posisi membelakangiku.

“Lexi, apa kau sudah punya namja chingu?” aku kaget dengan apa yang diucapkan Leon barusan, bukan kaget karena pertanyaannya yang sedikit konyol tetapi kata ‘Lexi’. Iya, itu Lexi, dosen baru di kelas music modern. Suaranya persis. Yang berbeda hanya dia di sini terlihat keibuan dan manis tetapi saat di kelas kami dia sangat sadis bin bengis. Sangat kontras.

“Kenapa tiba-tiba bertanya begitu? Kau ini usil ya” bukannya menjawab tapi dia malah tertawa.

“Aku hanya ingin tahu” jawabnya dengan tatapan puppy eyes.

“Kalau sudah kenapa dan kalau belum kenapa?” Wanita itu bertanya balik pada Leon.

“Kalau sudah ya tidak apa-apa. tapi kalau kau belum punya namja chingu, aku bisa mengenalkanmu pada Hyung-ku. Dia sangaaaaaaaaat tampan” mendengar peryataannya yang begitu polos itu aku menjadi berbunga-bunga dan tanpa sadar tanganku meraba-raba wajahku sendiri. Karena siapa lagi Hyung-nya yang paling tampan kecuali aku. Hahahaha

“Kau ini. dasar usil. Aku belum punya pacar kok” jawabnya ramah dan mungkin kalau aku sedang berada di depannya aku bisa melihatnya sedang tersenyum.

“Asyiiiiiiik, berarti kalau kau berpacaran dengan Hyung-ku, aku bisa memanggilmu Noona” dasar anak-anak. Memangnya pacaran seperti beli es krim apa?

“sayangku, bukan berarti aku akan berpacaran dengan Hyung-mu. Begini, mungkin kalau sekedar berteman bisa. Tapi di sini, aku sudah menemukan yang aku cari” dia menunjuk ke dadanya tanpa mengurangi kelembutan dari kalimatnya sendiri. Hal itu membuatku sedikit hopeless. Tidak ada salahnya kalau berteman? Toh mereka juga belum pacaran. Aku masih punya kesempatan.

“Yaaah…” Leon terdengar sedikit kecewa.

“tenang saja. Kau boleh memanggilku Noona kapan pun kau mau” dia mengusap-usap kepala Hyeon. Dia sangat baik. Kenapa di kampus dia tidak seperti ini? benar-benar kontras.

“jinjja?”

“Ne… Ya sudah, kita mulai saja ya”

“oke, Noona” terlihat sekali wajah Leon sangat gembira.

 

Aku terus memperhatikan mereka berdua sampai lesnya selesai. Lexi sempat memainkan sebuah lagu dan menyanyikannya. Suaranya sangat merdu. Cantik, menarik, cerdas, dan sifatnya yang sangat keibuan membuatku semakin tertarik padanya. Aku tak akan gentar walaupun di hatinya sudah ada orang lain. Dia kan belum menikah.

 

‘SMANGAT KYU!’

“Hyung, kau membawakan tasku?” Leon berlari ke arahku.

“tadi aku mau langsung memberikannya padamu, tapi sepertinya kau sedang sibuk” jawabku sambil membungkuk dan mengusap-usap kepalanya.

“Oh, iya. noona, ini Hyung-ku yang tadi aku ceritakan. Tampan kan?” kemudian Leon berpaling ke arah Lexi. Saat dia menatapku, jantungku jadi berdebar-debar tak karuan. Cantiknya yeoja ini saat tersenyum. Benar-benar tidak seperti di kampus. Sepertinya pipiku menghangat. Jangan-jangan merah lagi.

“Annyeong Haseyo…” kataku. Dia tidak menjawab tapi malah membungkuk.

“Noona, Hyung-ku tampan tidak?” Leon mendesak lagi. itu malah membuatku semakin malu saja.

“Ne…” jawabnya salah tingkah dan terlihat sedikit kikuk. Mungkin karena dia tidak mau membuat Leon kecewa.

“apa sudah selesai, Lexi?” tanyaku sedikit gugup padanya.

“Oh, ne… hari ini dia sangat patuh” jawabnya dengan senyum yang mengembang di wajahnya.

“hei, kau tahu namanya?” tanya Leon menarik-narik kaosku tak sabaran.

“Lexi adalah dosen kami. Jadi aku juga mengenalnya” aku menangkap pandangan polosnya.

“waaaw, Lexi kau keren bisa mengajari Hyung-ku yang bodoh ini” kekagumannya malah membuatku gemas. Enak saja aku dibilang bodoh.

“hei, kau ini” aku mengusap-usap kepalanya. Kalau saja dia sebaya denganku sudah aku jitak kepalanya. Tapi Lexi malah tertawa.

“ya sudah, ayo kita pulang sekarang kalau begitu. Lexi, kami pulang” aku berpamitan dan membungkukkan badan pada Lexi.

“gomawo, sudah datang.” Dia membungkukkan badannya lagi.

“Noona, kami pulang dulu ya…” Hyeon melambaikan tangannya kemudian aku menggendongnya.

“Hati-hati ya sayang. Jangan lupa makan dan belajar.” Lexi turut melambaikan tangannya.

“Ok”

“Hyung, apa Lexi cantik?” tanya Hyeon saat kami berjalan di koridor.

“Belum pernah Hyung-mu ini bertemu yeoja secantik dia” jawabku sumringah.

“wah, kalau dia sedang mengajarmu apa dia seramah itu?” tanyanya lagi tanpa mengurangi rasa kagumnya. Aku berfikir sejenak untuk mencari jawaban yang tepat.

“tentu, dia tidak hanya ramah tapi sangat menarik” kataku. Memang dalam keadaan apapun dia sangat menarik bagiku.

Sepanjang jalan dia terus bertanya tentang Lexi. Aku tidak bisa memberinya jawaban yang tepat karena aku sendiri baru bertemu dengannya dua kali.

 

 

Kyaaaaaaaa!

Berhbung tadi drable sekarang continue ya…

Yang mengkritik/kasih saran aku tag di part selanjutnya…

Tulisan kalian sangat berharga bagi kami…

Gomawo..

kalau ada ama wookie oppa nyangkut anggap saja heechul oppa ya coz cast-nya aky ganti. heechul lebih cocok dibanding wookie oppa…

 

3 Comments

Filed under Admin Yuni, superjunior fanfiction

3 responses to “Kyuhyun’s Love (part 1)

  1. ni krya author free, ea?? Nma authorny trdngar asing. Ato admin gnti id?? Hehe… Btw, qren, loh, ff-ny!! Daebak!! Tulisanny drapiin lgi, ya, eonn…!!

  2. @becky

    ini yang bikin admin yuni sendiri…
    hehehehehehe kalau yang nge’post emang author tetap kita. tapi dia bukan admin jadi jarang nongol di page…

    gomawo udah baca…

  3. @becky: gomawo uda mampir ke blog qt, .
    aq author tetap disini, .^^
    bukan admin, . .gomawo juga uda baca N menyempatkan comment, . .
    sering2 kesini ya, . .^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s