Don’t go away?

Terasa bantal ini masih basah oleh airmatanya yang tak berhenti menetes. Dan getaran di atas ranjang yang diakibatkan tangisnya yang tertahan masih berputar-putar memenuhi benakku. Masih terbayang bagaimana dia memunguti tiap helai pakaiannya yang teronggok di lantai. Lalu  mengemasi setiap benda yang ia rasa adalah miliknya. Aku masih mendengar isakannya saat dia memasukkan satu demi satu barang-barangnya itu ke dalam koper. Tapi, aku hanya diam dan memilih memunggunginya. Memang itu yang ku mau, kan? Membiarkannya pergi meninggalkanku. Dan aku bisa merengkuh kehidupanku yang dulu damai sebelum ada dia.

“Donghae-shi, betapapun aku mencintaimu, aku tidak akan menurunkan harga diriku. Kalau kau pikir aku senang dengan pernikahan ini, kau salah besar. Ini semata-mata hanya demi aboji dan perusahaan. Persetan denganmu sekarang!”

Aku tidak menimpali sama sekali dan tetap memunggunginya. Kubiarkan dia pergi begitu saja dengan amarah yang ada di ubun-ubunnya. Aku yakin dia akan kembali lagi. Mau tinggal dimana dia? Ini New York. Kota besar dengan gedung-gedung pencakar langitnya yang sangat tinggi. Memangnya bahasa inggrisnya bagus apa? Aku menengadah dan melihat jam. Jam dua belas malam.

Heini’s POV

Berat sekali kaki ini melangkah . Seolah ada besi seberat 100 kilo yang diikatkan di kakiku. Aku tak tahu akan pergi kemana. Aku tidak punya tujuan. Aku tidak kenal warga negara berambut pirang seperti mereka. Kalau saja bukan karena aboji, aku tidak akan menikah dengan Lee Donghae dan tinggal di sini. Hidupku aku korbankan demi perusahaan dan aboji.

Apakah aku mencintainya? Ne. Aku sangat mencintainya. Aku mencintainya sejak aku dijodohkan dengannya. Rasanya dia adalah laki-laki idamanku selama ini. Lima bulan kami menikah, aku berusaha menjadi istri yang baik. Menunggunya pulang kerja, menyiapakan makanan, menemaninya makan, dan normalnya menjadi seorang istri. Tapi, walaupun begitu kami tidak pernah melakukan hubungan suami istri. Dia tidak pernah menyentuhku sama sekali walaupun tidur di satu ranjang. Dia masih mencintai bekas pacarnya. Dan malam ini, dia benar-benar membuatku merasa hancur dan ‘sakit’ atas ucapan dan perlakuannya.

Flash Back…

‘kemana dia? Kenapa belum pulang? Harusnya jam segini dia sudah ada di rumah. Tidak biasanya dia tidak memberi kabar’

Aku terus memainkan sendok yang kuletakkan di samping piring porselen cina itu. Mengamati gelas berbahan kristal yang sudah kesekian kali aku teguk isinya karena terlalu lama menunggu. Banyak makanan yang kubuat hari ini. Hari ini adalah hari spesial untuknya karena dia naik jabatan. Dia memberitahuku kemarin. Yeah, selayaknya hal ini harus dirayakan walaupun hanya sekedar makan bersama. Biasanya dia pulang jam delapan. Tapi sekarang sudah jam sebelas. Aku tidak mau makan duluan karena dia tidak suka makan sendirian. Perutku lapar.

Aku mendengar suara pintu terbuka. Dan…

‘itu dia’

“kau baru pulang? Kenapa terlambat?” sapaku kemudian mengambil kopernya yang tergantung di tangan kanannya.

“bukan urusanmu!” semburat yang terpancar dari wajahnya sungguh tidak seperti biasa. Seolah dia ingin menelanku hidup-hidup.

“apa ada masalah?” tanyaku berusaha menekan emosi.

“sudah kubilang bukan urusanmu!” bentakannya kali ini benar-benar membuatku terkejut. Dia kenapa sih?

“kenapa kau begitu? Memangnya ada apa?” tanyaku pelan karena tertahan airmataku yang sebentar lagi mengalir.

“kau bilang ada apa? Semua ini gara-gara kau! Kau merampas kehidupanku! Sebelum kau datang hidupku bahagia bersama Mina! See? Dia bersama laki-laki lain setelah aku menikah denganmu! Dia bertunangan dengan laki-laki itu hari ini” kemudian dia menarik tanganku dengan paksa dan menyaretku ke kamar sebelum aku mengucapkan kata-kata.

“lepaskan! Apa yang kau lakukan? Kenapa kau marah padaku?” aku meronta sampai-sampai aku melepaskan kopernya yang tadi masih ada di tanganku.

Sesampainya di kamar, dia menghempaskanku ke ranjang. Dia mengendurkan dasi dan melepaskannya.

“kau mau apa?” tanyaku panik. Tapi dia malah membuka kancing kemejanya satu per satu.

“bukankah ini yang sewajarnya dilakukan oleh sepasang suami istri? Hah?” dia melempar kemeja itu ke lantai.

“Donghae-shi, hentikan!” aku berteriak dan dia semakin tidak menggubris.

“jangan macam-macam kau!” aku mundur dan membuat beberapa helai bajuku yang tadi aku lipat jatuh ke lantai.

“kenapa? Bukankah kau juga menginginkannya selama lima bulan ini? Hah?” dia berkata seperti setan dan menerkamku.

Aku tidak bisa menghindar karena tubuhku sudah terhimpit sandaran tempat tidur. Dia merengkuh tengkukku bermaksud menciumku. Tapi aku katupkan bibirku rapat-rapat agar dia tidak terlalu jauh dan berusaha memukul-mukul dadanya walaupun itu percuma. Tidak berhenti di situ, dia malah menggigit bibir bawahku hingga aku hampir teriak. Belum sempat aku mengeluarkan suara lidahnya sudah mauk ke dalam mulutku. Menjelajah dengan paksa. Airmataku mengalir deras karenanya. Gerakannya begitu labil sampai-sampai aku kuwalahan. Tapi ritmenya berangsur dinamis setelah beberapa saat. Beberapa detik kami berpandangan setelah dia melepaskan ciumannya.

~plakkk!~

“kau brengsek!” pekikku.

Dia hanya diam tanpa perlawanan dan memilih pindah ke sisi tempat tidur yang lain. Sementara aku hanya menangis karena ulahnya barusan. Lidahku kelu dan pikiranku berkecamuk. Aku pikir dia akan memperkosaku malam ini tapi ternyata tidak. Sebenarnya bukan memperkosa, tapi memaksaku. Tidak ada istilah suami memperkosa istrinya sendiri. Aku masih shock. Tangisku semakin kencang saat aku teringat kata-katanya sebelum menyeretku ke sini. Aku merasa seperti benda sialan yang merusak pemandangan setiap kali dia melihatku. Aku turun dari ranjang, memunguti pakaian yang tadi terjatuh ke lantai. Aku letakkan pakain berbahan satin dan katun itu di atas ranjang, kemudian aku ke kamar mandi.

Aku langsung membasuh mukaku dengan air yang keluar dari keran wasteful berwarna pastel itu. Aku menghadap ke cermin karena ada rasa perih di bibirku. Aku memperhatikan bekas luka gigitan itu.

‘ini pertama kalinya. Aku pikir akan berkesan. Pasti saat melakukannya yang ada di otak busuknya itu adalah Choi Mina’ Aku berusaha berhenti menangis tapi gagal. Sampai aku keluar dari kamar mandi pun aku masih menangis.

Aku membuka lemari dan mengambil blezer-blezer semi formalku, mengeluarkan kardigan, kaos, celana Levis, dan semua milikku itu kemudian mengemasnya ke dalam koper yang terlebih dulu telah aku siapkan. Mungkin ini lebih baik setelah apa yang terjadi padaku barusan. Dia memunggungiku seolah tak sudi melihat wajahku lagi. Setelah itu, aku memasukkan barang-barangku yang ada di atas meja rias. Seluruh make up Revlon-ku kumasukkan ke tas jinjing Gucci berwarna silver. Aku meraih salah satu foto pernikahan kami yang ada di tempat yang sama.

‘setidaknya ini bisa aku simpan’ ujarku dalam hati sampil melirik ke arahnya yang sedari tadi tidak bergeming.

“Donghae-shi, betapapun aku mencintaimu, aku tidak akan menurunkan harga diriku. Kalau kau pikir aku senang dengan pernikahan ini, kau salah besar. Ini semata-mata hanya demi aboji dan perusahaan. Persetan denganmu sekarang!” ujarku untuk yang terakhir kalinya, kemudian aku pergi dari hadapannya.

End flash back…

‘sekarang aku harus pergi kemana? Tidak mungkin aku kembali ke Korea. Ini sudah terlalu malam dan kemungkinan besar bandara sudah tutup’

Aku memperhatikan jam besar yang ada di pusat kota itu menunjukkan jam dua belas. Kemudian aku menyeret koperku dan duduk di halte terdekat.

‘pabo! Kenapa aku tidak pergi besok saja? Tidak ada sanak saudara. Mau pergi kemana? Bahasa inggrisku kurang lancar. Jika keadaan seperti ini, aku jadi sangat rindu pada aboji. Tapi kalau aku memberitahunya tentang keadaanku, pasti aboji akan sedih dan tekanan darahnya akan naik. Apa yang harus kulakukan?’ aku menangis lagi sambil memeluk tasku.

“ayo pulang” sebuah suara dari seorang pria yang siluetnya tertangkap oleh mataku terlebih dahulu membuatku menengadah.

“untuk apa kau ke sini?” aku membesut airmataku dengan cukup kasar.

“sudah malam. Ayo kita pulang.” katanya lagi. Kali ini suaranya tidak berapi-api seperti beberapa waktu lalu. Tepatnya enam puluh menit yang lalu.

“apa pedulimu? Dasar tidak tahu malu” kataku kemudian melengos menghindari tatapannya.

“setidaknya aku bisa mengantarkanmu pada orangtuamu besok dengan cara yang lebih terhormat. Tidak dengan jalan seperti ini.” Dia menarik koperku dan berjalan di depanku.

“tidak perlu!” aku berusaha menarik koperku lagi.

“memangnya kau mau kemana?”

“yang jelas tidak denganmu” kataku sinis.

“oke. Kau boleh mengutukku. Kau boleh memakiku sesuka hatimu. Aku memang salah. Aku brengsek dan tidak tahu malu! Tapi, jebal… pulanglah. besok aku yang akan mengantarkanmu kemana pun kau mau. Kau tidak mau kan aboji-mu terkena serangan jantung karena apa yang terjadi pada kita? Aku juga tidak tahu bagaimana menjelaskan pada eomma-ku kalau dia tahu kita berpisah” dia mengacak-acak rambutnya karena frustasi.

“kau hanya memikirkan dirimu sendiri, Donghae-shi” kali ini aku menatapnya dengan tajam.

“tidak sepenuhnya aku memikirkan diriku sendiri, Heini-ah. Aku memikirkanmu dan abojimu juga. Ayolah kita pulang. Ke luar rumah malam-malam begini terlalu berbahaya.”

Aku menatapnya sejenak. Ucapannya memang masuk akal. Lagipula aku juga belum tahu mau pergi kemana. Jujur saja ada perasaan tenang saat dia menyusulku karena aku tidak tahu arah mata anginku harus pergi kemana. Tapi aku harus gengsi di awal agar harga diriku tidak jatuh begitu saja. Aku berlalu melintasinya dan berjalan menuju apartement. Dia tidak mencoba berjalan beriringan denganku dan memilih berjalan di belakangku.

End POV

***

Setelah semalam bertengkar, kami tidur di tempat yang terpisah. Dia di kamar tamu, sementara aku tetap di kamar kami. Hari ini aku masih bermalas-malasan di atas tempat tidur bergaya spanyol itu padahal normalnya aku sudah berangkat ke kantor. Aku sengaja mengambil cuti seminggu kalau-kalau Heini minta diantar ke orangtuanya. Tidak tahu kenapa hari ini aku merasa kacau setelah membuka mata. Aku teringat kejadian semalam. Aku merasa jadi orang yang paling brengsek.

Aku menjejakkan kakiku ke lantai marmer berwarna krem itu tanpa alas kaki. Aku menuju ruang makan untuk mencari sesuatu yang bisa dimakan. Aku lapar sekali karena semalam aku tidak makan apapun. Makanan sangat banyak sudah terhidang di meja sampai-sampai aku bingung mau memakan yang mana dulu. Tapi makanan ini tidak fresh. Tidak hangat lagi dan tidak tersentuh sama sekali. Mungkin ini makanan semalam. Aku tidak tahu karena aku tak mengunjungi meja malam tujuh jam yang lalu. Aku juga menemukan sebuah note kecil yang bertuliskan : “Selamat ya… Kau memang hebat”

‘pabo! dia ingin merayakannya denganku tapi aku malah menghancurkannya. Kenapa dia belum keluar? Apa dia masih marah karena kejadian semalam? Atau jangan-jangan….’ tanpa basa-basi aku langsung berlari ke kamar tamu.

Aku membuka pintu jati kamarnya dengan tergesa. Aku hanya berfikir apakah dia pergi sebelum aku bangun? Ternyata tidak. Aku melihat sesosok badan yang masih meringkuk di atas ranjang. Dia masih di situ. Dia masih memakai baju yang sama seperti semalam. Aku mendekatinya dan bermaksud membangunkannya.

“Heini-ah. Bangunlah” aku menggoyangkan badannya melalui lengannya. Terasa hangat. Aku sedikit panik dan mengalihkan tanganku ke dahinya.

“Omona~ kau sakit??” dahinya panas sekali dan hal itu membuatku semakin panik. Dia memegangi perutnya dan hal itu membuatku mengerti kenapa badannya menjadi sepanas ini.

“kenapa kau tidak makan semalam? Kau kan punya penyakit magh” Dia sudah bangun tetapi tetap memejamkan matanya. Dahinya berkerut-kerut dan dia menggigit bibirnya menahan rasa sakit.

“aku menunggumu, Donghae-shi. Kau kan tidak suka makan sendirian” katanya dengan suara tertahan. Dan hal itu malah membuatku merasa semakin bersalah. Aku sudah menyakiti hatinya dan sekarang fisiknya.

“kenapa harus menungguku sih? Aku akan menelephon dokter” kataku frustasi.

“Donghae-shi.” dia menarik lenganku sebelum aku mencapai gagang telephone.

“Mianhaeyo. Aku juga tidak mau menjadi penghalang hubunganmu dengan Choi Mina. Kalau perceraian adalah hal yang paling baik, aku sudah membicarakannya dengan aboji semalam. Aku sudah siap” katanya dengan suara tertahan. Entah kenapa ucapannya ini malah menusuk hatiku sendiri. Aku melepaskan tangannya dengan lembut.

“bukan waktunya untuk membicarakan ini, Heini-ah. Keadaanmu tidak mendukung” aku langsung beringsut menuju telephone yang ada di meja kecil di sudut kamar.

Beberapa jam setelah dokter memeriksa keadaannya, aku membawakan bubur kesukaannya. Aku tidak tahu rasanya enak atau tidak. Aku baru pertama kalinya terjun ke dapur setelah lima bulan satu atap dengannya untuk membuat bubur ini. Tadinya aku ingin memesannya ke restoran, tapi dia malah mau aku sendiri yang membuatnya. Terpaksa aku langsung mencari resepnya di internet.

“aku tidak yakin ini enak” kataku saat duduk di sisi temapt tidur yang kosong sambil meletakkan nampan di atas pahanya yang tertutup selimut.

“aku akan menghabiskannya” katanya dengan senyum yang sangat manis. Baru kali ini aku benar-benar memperhatikan kalau dia sangat manis.

“Gomawo…” balasku. Kemudian dia meniup-niup bubur panas yang telah di sendoknya.

“rasanya enak” dia tersenyum lagi walaupun keadaannya masih lemah.

“jinja?” aku sedikit kaget karena itu benar-benar baru pertama kalinya. Aku belum mencicipinya sedikitpun.

“cobalah” dia menyendokkan bubur itu dan menyuapiku setelah buburnya sedikit hangat karena ditiup. Aku sedikit ragu saat dia menyuapkannya.

“daebak!” dia berdecak kagum saat bubur itu melewati kerongkonganku.

“aku tidak menyangka bisa membuat bubur seenak ini. Aku jadi lapar, aku juga mau mencobanya…” kataku sumringah. Ternyata benar-benar enak. Aku pikir dia berbohong.

“satu mangkok kalau kau tidak keberatan” katanya menahan gerakanku sebelum bangkit dari tempat tidur.

“setelah apa yang terjadi semalam…” aku menatapnya lekat. Tapi bukan masalah bubur.

“lupakan, hal itu. Seperti yang aku bilang tadi, kalau kau tidak nyaman hidup denganku. Ceraikan aku. Aku sudah bilang pada aboji dan dia mau mengerti”

“banyak hal yang sudah aku pikirkan setelah kejadian semalam, Heini-ah. Dan aku benar-benar minta maaf atas ucapan dan perbuatanku semalam. Tapi… kalau kau mau memberiku kesempatan untuk memperbaiki semuanya dan mengijinkanku menjadi suami yang baik, aku akan berusaha semampuku. Aku akan belajar mencintaimu. Melupakan masa lalu dan tetap setia dengan janji suci kita. Tapi aku butuh waktu.” aku tidak tahu dia percaya atau tidak dengan ucapanku. Yang jelas aku sudah mengutarakan isi hatiku. Dia malah menangis. Aku tidak tahu menagis karena apa?

“apakah ada yang salah, Heini-ah? Kenapa kau menangis?” tanyaku panik. Takut kalau aku menyakitinya lagi.

“anni. Aku hanya berfikir kalau hari ini kau benar-benar akan mengantarkanku pulang ke Seoul”

“jeoungmal mianhaeyo, Heini-ah. Aku tidak akan mengulanginya” aku meraih tangannya. Dan dia mengangguk dengan cepat.

***

Sebulan kemudian…

Heini’s POV

“chaggi, mana tas kerjaku. Aku hampir terlambat” sebuah teriakan dari luar kamar membuatku lebih sigap.

“ne, oppa. Aku datang”

Setelah kejadian sebulan lalu, aku mulai memanggilnya oppa. Dia yang memintanya. Katanya usiaku lebih muda darinya. Padahal dulu dia ngotot tidak mau dipanggil oppa.

“kau bisa memakai dasi tidak, sih?” aku melihat dasinya yang dikaitkan asal-asalan. Hari ini dia kesiangan karena begadang nonton bola. Walhasil, terburu-buru.

“parfummu wangi sekali sih? Aku sampai takut kalau ada yang menggodamu di jalan” protesku tapi masih sibuk dengan dasinya.

“hehehe… kenapa jelous? Ini kan yang biasa aku pakai. Tapi ada karyawan baru loh di kantor. Lumayan..” katanya.

“awas saja kalau kau macam-macam, oppa!” aku menarik dasi itu hingga dia tercekik.

Hal itu membuatnya menunduk. Anehnya dia malah mengaitkan tangannya di pinggangku. Dia menciumku sekilas. Dan membuat jantungku berdetak lebih kencang. Aneh, padahal aku pernah melakukannya sekali dengannya waktu itu ‘dengan dipaksa’. Tapi ini rasanya lain.

“Sudah enam bulan kita tidak melakukannya. Apa aku perlu bolos kerja?” katanya dengan tatapan memohon. Perlu beberapa detik agar otakku paham dengan apa yang diucapkannya.

“apa pikir kau tidak menginginkannya” kataku dengan kepala tertunduk. Dia meraih daguku agar menatapnya.

“aku takut memintanya setelah malam itu. Aku takut kalau kau pergi lagi”

“jinja? Aku malah heran kenapa kau tidak pernah memintanya selama ini” kataku heran.

“apa boleh?”

“ne. itu kewajibanku sebagai seorang istri, oppa”

“jinja? Kajja!” dia bersemangat sekali sampai-sampai mau membuka kemejanya.

“jangan pabo. Hari ini kau ada rapat penting. Nanti malam saja”

“Arggggggh, aku lupa. Ya sudah. Aku harus cepat pergi dan kembali lagi” dia mencium keningku kemudian dia berjalan dengan sedikit tergesa ke arah pintu.

“oh, iya…” dia berhenti dan berbalik menatapku.

“walaupun waktu itu aku sangat kasar saat menciummu, kenapa kau membalasnya?”

“sejujurnya aku memang menginginkannya, bahkan aku tidak mau berhenti” kataku dengan suara diseret-seret.

“tidakkah kau rasakan kalau aku juga merasakan hal yang sama?” tanyanya lagi dengan penuh harap.

“aku merasakannya tapi takut untuk mengakuinya. Aku takut salah” dia mendekatiku lagi. Meletakkan tasnya sembarangan dan meraihku kemudian memberikanku beberapa ciuman yang cukup dalam. Aku membalasnya walaupun aku belum cukup mahir dalam hal ini.

“saranghae”

“nado, oppa. Pergilah, kalau tidak aku bisa mengiginkan yang lain”

“ah, ne. Kau sih membuatku betah di rumah”

“aish, kau malah menyalahkanku”

the end

Setelah beberapa jam berkutat dengan PC, akhirnya jadi juga. Masih fresh nih, baru selesai dibikin. Jadi kalau ada yang salah-salah dikit tolong dimaklumi ya…

Hehehehe tadinya FF ini mau aku bikin NC tapi gak jadi. Gak bakat sih… *plakkkkkkkk yadong banget mau bikin NC*

Alhamdulilah Haepa belum diapa-apain sama Heini.

Dapet inspirasi dari pakaian yang belum aku setrika, jadi deh FF #gak nyambung.

ah udah ah. Authornya makin ngelantur nih…

jangan lupa RCL ya…

gomawo udah baca…

2 Comments

Filed under Admin Yuni, Family, romance

2 responses to “Don’t go away?

  1. Tntang perjodohan gt..
    Wahh aku sk bgt
    nice ff=)
    bkn sekuelnya dund.hehe

  2. yuni_imnida

    @chaekyoung^^

    hehe nggak ada squelnya sayang. . .
    Blm ada niatan untuk bkin squel. Mungkin akan ada crita2 yg lain. . .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s