A Few Time to See You

klff

 

Udara dingin ini bagaikan pisau yang menusuk kulit siapa saja yang berkeliaran di tengah badai salju. Minus 30 derajat. Dingin sekali bukan? Bahkan mantel berbulu lebat dan mahalpun bisa menembus dingin ini. Yang nampak dari luar asramaku hanyalah hamparan saju putih yang menyelimuti setiap lini permukaan benda apa saja yang berada di luar.

Aku hanya bisa berharap semoga badai ini cepat berlalu karena aku harus mengajukan surat permohonan magang di kota kelahiranku pada dekan fakultas ekonomi hari ini juga. Sayangnya mahasiswa asing di negara ini tidak diperkenankan magang di negara dimana mereka semua (termasuk aku) mengemban ilmu karena magang hanya diberlakukan pada mahasiswa domestik. Toh, kalaupun ada mahasiswa asing yang ingin magang, mereka harus melamar ke perusahaan di negara mereka berasal. Itu pun juga tergantung kebijakan fakultas masing-masing.

Sebenarnya di fakultasku tidak ada kebijakan untuk magang di suatu perusahaan. Kami bisa mengajukan makalah-makalah untuk penunjang tugas akhir. Tapi aku terlalu rindu dengan negriku sendiri, aku ingin magang di sana sekalian berlibur dan sembahyang di kuburan appa dan eomma. Iya, mereka sudah meninggal. Mereka meninggal karena kecelakaan kereta saat ingin pergi ke Busan. Waktu itu usiaku masih sepuluh tahun dan dalam keadaan masih di bawah umur aku telah menjadi yatim piatu. Sebelum aku memutuskan mengambil beasiswa ke Moscow, aku tinggal dengan Park ahjumma. Dia adalah adik dari appaku. Suaminya ikut tewas dalam kecelakaan itu. Dia mempunyai satu anak perempuan. Dia sangat sayang padaku, mungkin karena aku sudah sebatang kara di dunia ini.

“excuse me. May I ask whether?” seseorang dengan mata sipit dan beralis tebal itu menghalau langkahku menuju Universitas.

“of course” jawabku masih menggunakan bahasa yang sama.

“do you know where Geroi’s street is located?”

“yes, I do. From here, straight away, there are T-junction you choose the right away. After that you will find the traffic lights. Go straight and along the road is Geroi’s street” aku menerangkannya sambil menunjuk-nunjuk tanganku.

“oh, thank you”

“you are welcome” aku tersenyum padanya. Kemudian dia berbalik lagi.

“are you Chinese?”  dia bertanya lagi padaku.

“no. I’m Korean. You?” tanyaku

“oh, same with me. Can you speak in Korean language?” dia terlihat antusias sekali setelah mendengar bahwa aku adalah orang Korea.

“Ne. annyeonghaseyo, Han Ryena Imnida”

“oh, aku tidak menyangka bisa bertemu dengan orang korea juga di sini. Choi Siwon. Siwon imnida” jawabnya dengan antusiasme yang terlihat cukup tinggi. Kami berjabat tangan.

“apa kau mahasiswa juga? Sepertinya aku tidak pernah melihatmu kalau ada acara khusus di KBKS(Kedutaan Besar Korea Selatan). Atau aku yang kurang memperhatikan?” tanyaku heran karena wajah ini memang terlihat asing. Mahasiswa Korea yang kuliah di sini tidak banyak dan aku bisa menghafal wajah-wajah mereka yang jumlahnya tidak lebih dari lima puluh orang.

“anni. Aku hanya mengunjungi adjusshi. Dua hari lagi aku akan kembali ke Korea”

“oh…” aku tahu dia bukan mahasiswa dari Korea, tapi kenapa wajahnya sedikit familiar. Hal itu membuatku berfikir.

“kau mau kemana?” tanyanya.

“Kampus. Aku mau menghadap dekan. Arahnya juga sama kok dengan yang kau tuju, tapi di perempatan nanti aku harus berbelok ke kanan sementara kau lurus. Mau bareng?” tanyaku sambil terus berfikir, sebenarnya namja ini siapa.

“ne… dengan senang hati. Aku baru pertama kali ke sini jadi aku masih belum hafal jalannya”

“ayo” ajakku kemudian melangkahkan kami bersama.

“kau sudah lama di sini?” tanyanya di sela-sela perjalanan kami.

“hampir empat tahun. Rencananya kalau surat pengajuan magangku di setujui oleh Dekan, aku bisa pulang minggu depan. Aku akan di Korea selama sebulan. Aku sudah rindu pada kampung halaman. Kau tinggal dimana?” tanyaku balik.

“aku di Seoul. Kau?”

“aku juga di Seoul”

“wah, berarti kita bisa jalan-jalan jika kau sedang tidak sibuk” katanya merayu.

“boleh saja. Kau kuliah dimana?” tanyaku sambil membenahi tudung kepalaku yang hampir lepas.

“di Inha, edukasi fisik. Kau dari jurusan apa?”

“akuntansi. Sepertinya aku pernah melihatmu, tapi aku lupa dimana. Apa kau pernah melihatku?” tanyaku karena masih penasaran dengan gerangan yang sekarang berjalan di sampingku. Sesampainya di T-junction, kami mengambil arah ke kanan.

“aku belum pernah melihatmu kok. Aku baru pertama kali datang ke sini. Emmm, apa kau suka musik?” tanyanya sepertinya penasaran sekali denganku.

“aku suka. Tapi mendegarkan musik bukan hobiku. Bisa dibilang aku jarang mendengarkan musik. Apa kau suka musik?” tanyaku padanya tanpa melepaskan ulasan senyum di wajahku.

“Ne… musik adalah hidupku. Kau tahu super junior?” tanyanya masih dengan wajah setengah percaya dan setengah penasaran.

“ne… tapi aku hanya tahu kalau itu salah satu boy band Korea. Wae?” jawabku sekenanya.

“ah, anni…” jawabnya buru-buru.

“selama di sini aku jarang meng-up date tentang berita di Korea. Tugasku terlalu banyak dan aku mengalami kesulitan dalam menggunakan bahasa Rusia. Padahal aku sudah mendalami bahasa Rusia di tahun pertama. Karena itu aku lebih sering belajar bahasa Rusia ketimbang up date berita. Apakah banyak perubahan di negara kita?”

“ne… dari segi pembangunan, pendidikan, industri musik, pokoknya dalam banyak bidang sudah banyak megalami kemajuan. Apa kau selalu pulang saat liburan?”

“anni”

“wae?”
“aku sudah berjanji pada diriku sendiri kalau aku baru akan pulang setelah empat tahun. Oke, kita sudah di perempatan. Kau bisa lurus dan aku akan ke arah sini” aku menunjuk ke arah kanan.

“ne, gamshahamnida”

“Cheonmaneyo” kemudian aku berjalan ke kanan sementara dia sudah lurus ke depan.

“Ryena-ah. Berapa nomormu?” aku berbalik dan melihat namja itu tengah berlari ke arahku.

“oh, untuk apa?”

“mungkin kita bisa saling menjaga komunikasi”

“berikan saja nomormu. Nanti sesampainya di Korea, aku akan mengabari. Aku berharap surat permohonan ini disetujui” aku menepuk-nepuk tasku.

“oke. Ini. 0857*****” sembari dia menyebutkan angka-angkanya aku mengetiknya di handphone.

“oke. Aku harus bergegas. Dia sangat susah ditemui”

“oke. Aku tidak bermaksud membuatmu tertahan”

“bukan masalah” kemudian aku melihat jam dan mempercepat jalanku.

***

Setelah beberapa lama berada di pesawat, akhirnya aku sampai juga di bandara Internasional Incheon. Tampak di mataku seorang yeoja dengan tas Gucci di tanganya tengah melambai-lamai  ke arahku. Dan aku juga melirik ke arah wanita yang berdiri di sampingnya. Aku tak menyangka menyangka beliau sekarang sudah beruban. Apakah aku terlalu lama di Moscow? Park ahjumma dan Park Hyeri, bibi dan sepupuku itu menyambutku dengan gembira.

“long time no see, dear” sapa Hyeri girang dan langsung memelukku. Usianya lebih tua dariku, jadi aku memanggilnya onnie.

“so miss you, baby” aku mendekapnya erat. Aku sangat rindu padanya. Empat tahun tak jumpa dia sudah tampak lebih dewasa. Sebenarnya memang dia sudah dewasa sih.

“ahjumma, aku kangen” aku melepaskan pelukan dari Hyeri dan langsung mampir di pelukan ahjummaku.

“aku juga kangen padamu. Bagaimana kabarmu? Apa kau sehat? Kau cukup makan?” ahjumma bertubi-tubi.

“ne, ahjumma. Dan urusan makan sudah barang tentu aku tidak akan meninggalkan hajatan yang satu ini hehehehehe” aku mencium kening ahjummaku yang mulai keriput. Maklum saja, usianya sudah kepala lima.

“kau bawa apa untukku? Hah?” tanya Hyeri sambil berkacak pinggang.

“aku membawa seluruh kerinduan dari Moscow. Hahaha tadinya mau aku bawakan sekotak salju. Tapi aku takut mencair” aku meledeknya. Sudah lama sekali aku tidak berhadapan langsung dengan noona-ku ini.

“kau pikir di sini tidak ada salju apa? Kenapa tidak sekalian saja kau kantongi beruang putih dari sana untuk pajangan di kamarku? Dasar Pabo! Hahahaha” kami tergelak mendengar ucapannya itu. Coba saja bayangkan, bagaimana caranya seekor beruang masuk di kantongmu? Kecuali kau pinjam kantong ajaibnya doraemon.

“kau yang pabo! Ini” aku menyerahkan sebuah gantungan kunci yang berbentuk beruang putih dari kantongku. Ukurannya sebesar jempol kaki.

“itu tidak perlu kau pajang. Cukup kau biarkan dia bergelantungan di resleting tasmu hahahaha” aku senang melihat mukanya yang masam itu karena tertelan oleh umpannya sendiri.

“kau memang brilian. Bagaimana dengan parfum pesananku?” dia menepuk-nepuk pipiku.

“aku tidak mau membelikannya” kataku.

“wae?” dia mengerutkan dahinya.

“ahjumma yang melarangku” aku menoleh kepada ahjumma agar beliau yang bergantian menjelaskan pada Hyeri onnie.

“kenapa kau minta oleh-oleh parfum dari Rusia kalau itu bisa dibeli di Korea? Merepotkan!” ucap ahjumma berusaha bertampang sangar padahal terlalu memaksa karena wajahnya terlihat sangat lembut.

“aaaah, eomma. Aku kan mau parfum dari sana. Aku mau parfumnya naik pesawat dulu sebelum aku pakai” dia malah merengek pada ahjumma.

“dasar pabo! Apa kau akan bilang pada semua rekan kerjamu hai teman-teman, parfumku take off dengan cantik loh kemaren. Dasar udik. Hahahaha” ejekku.

“oh, tentu tidak. Aku hanya akan bilang pada mereka kalau sepupuku yang pelit itu hanya memberiku sebotol parfum. Hahahaha” dia menimpali.

“kau memang tidak tahu terimakasih” kataku pura-pura sengit.

“pasti. Tapi yang aku tahu adalah sepupuku ini sangat aku rindukan hehe” dia memelukku.

“sepertinya kau baru saja menyematkan bintang lima padaku. Aku berada di atas awan, onnie”

“sekali-kali memang kau perlu dipuji”

“sudah-sudah. Pasti kau capek dan lapar. Ayo kita pulang. Ahjumma sudah memasakkan kimchi kesukaanmu”

“benarkah? Mauuuuuuuu…”

“dasar! Makanan saja kau tidak pernah lupa”

“biarin”

“mulai lagi…” protes ahjumma.

***

Hampir tiga minggu aku magang di Hyundai Department Store bagian keuangan. Awalnya memang sangat nervous, tapi sekarang aku menjadi terbiasa. Tinggal seminggu lagi waktuku di Korea dan aku harus kembali lagi ke Rusia untuk menyelesaikan PI. Hanya satu hal yang aku sesalkan saat aku pulang ke Korea. Kenapa ponselku bisa tertinggal di asrama? Bodoh sekali aku ini. Aku mengingkari janjiku pada namja bernama Siwon, untuk berjalan-jalan bersama jika aku sudah sampai di sini. Entah kenapa beberapa minggu terakhir ini aku jadi sering memikirkannya walaupun aku sendiri juga tak yakin dia masih mengingatku atau tidak. Terkadang aku berfikir ingin pergi ke Rusia untuk mengambil ponsel dan kembali lagi ke Korea untuk magang. Ide ini terdengar sangat konyol, bukan?

Aku berjalan menyusuri trotoar yang biasa aku lewati setiap hari baik sebelum pulang maupun setelah pulang dari HDS. Sore ini begitu cerah. Sepertinya musim gugur sebentar lagi tiba. Sayangnya saat musim gugur itu datang, aku pasti sudah kembali ke Rusia. Ini memang sudah menjadi resiko dari keputusanku mengajukan beasiswa dulu. Aku tidak mau terlalu merepotkan ahjumma karena waktu itu beliau harus memberikan pendidikan yang layak padaku dan Hyeri noona dalam waktu yang bersamaan. Akhirnya aku memutuskan kuliah di Rusia karena quota beasiswa untuk belajar di sana selalu tidak terpenuhi (artinya selalu kurang dari quota yang disediakan). Jadi, kemungkinan beasiswaku diterima jauh lebih besar. Dan benar saja, aku diterima. Seluruh biaya pendidikan dan asrama digratiskan. Walaupun tidak termasuk biaya hidup yang ditanggung, tapi setidaknya itu meringankan beban ahjumma..

Aku melihat sekilas LCD besar yang terpampang di dekat tempatku berjalan. Tidak ada gambar apapun di situ. Layarnya berwarna biru laut. Biasanya kita harus menunggu beberapa detik agar pesan yang ingin di-influence kepada penonton muncul. Aku kembali fokus pada trotoar di hadapanku. Melangkahkan kaki setapak demi setapak. Di belakangku terdengar suara mendentum-dentum yang aku yakin adalah berasal dari LCD itu. Aku terus melangkah tanpa peduli. Aku menghentikan langkahku ketika sebuah suara tertangkap rapat oleh gendang telingaku. Suara yang tidak asing bagiku. Aku berbalik dan menatap ke arah LCD raksasa itu tanpa ragu. Aku memperhatikan sepuluh personil boy band yang tengah memperlihatkan aksinya. Yang menjadi fokusku adalah seorang namja yang muncul dibagian awal sebagai penyanyinya. Namja beralis tebal dan bermata sipit. Memakai blazer yang senada dengan yang lainnya. Di beberapa part tertentu, wajahnya di close up. Dia tampak cool. Aku memperhatikan dengan saksama saat dia mengambil bagian. Aku kenal dengan namja ini. Detak jantungku menjadi seirama dengan latar belakang musik yang mengiringi. Jantungku mendentum-dentum lebih cepat terutama saat namja ini mengambil bagian. Seolah-olah dia sedang menatap lekat padaku.   Aku melihat aksi mereka hingga akhir video itu. Ada label yang bertuliskan “SUPERJUNIOR  BONAMANA”

‘Siwon-sshi. Kau kah itu? Kau artis? Pantas saja sepertinya aku pernah melihatmu saat pertama kali kita bertemu’

Aku melangkahkan kakiku lebih cepat agar segera sampai rumah. Aku langsung pergi ke kamar Hyeri onnie. Dia yang tengah melihat setumpuk berkas yang ada di hadapannya sedikit terkejut dengan kedatanganku yang tiba-tiba.

“apakah di super junior ada anggotanya yang bernama Choi Siwon?”

“Ne. wae?”

“jinja?”

“ne. waeyo?”

“aku bertemu dengannya di Moscow” aku langsung merosot ke lantai. Seolah tak percaya.

“benarkah? Bagaimana bisa?” Hyeri onnie langsung mendekatiku dan berjongkok di hadapanku.

“dia bertanya jalan padaku. Kami sempat ngobrol dan dia minta nomor telephoneku. Aku tidak memberinya tapi aku berjanji akan menelephonenya jika aku sudah di Seoul. Aku meminta nomornya dan aku save di ponsel. Tapi kau tahu kan kalau ponselku ketinggalan” aku langsung mendengus kesal.

“pabo! Kau tidak kenal Choi Siwon? Dia itu begitu populer. Kau tidak tahu ya kalau kau sekarang magang di perusahaan ayahnya? Dia anak pertama dari presedir Choi. Bisa dibilang dia akan menjadi ahli waris” paparnya seolah-olah tatapannya itu berkata dasar-pabo!-kau-tidak-tahu-kalau-telah-bertemu-dengan-namja-populer-dan-kayaraya.

“aku tau superjunior, tapi aku bukan fanatik. Bahkan mendengar lagu-lagu mereka juga never. Aku tidak menyangka kalau dia itu artis. Apa dia masih ingat padaku ya?” aku menoleh pada Hyeri onnie penuh harap.

“aku yakin masih. Kau telephone saja dia kalau kau kembali ke Moscow. Bilang kalau ponselmu tertinggal”

“ne… sebelum aku tahu dia artis aku juga telah merencanakannya.”

“Kenapa dia begitu tampan sih?” tambahku lirih.

“takdir. Hahahaha apa kau menyukainya?”

“bisa jadi. Bukan hari ini saja aku memikirkannya. Tapi setelah bertemu dengannya waktu itu, aku jadi sering memikirkannya dan ingin bertemu dengannya”

***

Seminggu berlalu dengan cepat dan koperku juga sudah menunggu minta diangkut ke tampat tujuan. Aku sedih harus pergi lagi. Aku sedih tidak bisa bercanda dengan Hyeri lagi dan memakan makanan buatan Park ahjumma. Dan sedih karena selama sebulan ini aku tidak pernah bertemu dengan Choi Siwon lagi. Tapi aku telah menitipkan pesan pada sekretaris Presedir Choi kalau Siwon berkunjung ke perusahaan tolong bilang bahwa ponselku tertinggal di Moscow. Jadi tidak bisa menghubunginya. Aku sanksi pesan itu akan sampai karena dalam sebulan ini aku juga tidak pernah berpapasan walaupun hanya sekejap dengannya. Dia terlalu sibuk dengan superjunior.

Aku menyeret koperku yang berisi barang-barang yang sama seperti saat aku pulang ke Korea. Ahjumma dan Hyeri terlihat kehilangan saat aku hendak check in. aku memberikan pelukan hangat pada mereka. Airmataku juga sempat menetes saat ahjumma menangis.

“jaga diri baik-baik. Jangan telat makan iya” ujar ahjumma.

“ne… ahjumma juga ya. Pemanas ruangan sepertinya perlu di service. Sudah kurang hangat lagi”

“awas ya, kalau kau tidak pulang dengan cumlaude. Aku akan menghabisimu” ucapan ini sama saja dengan, cepat pulang.

“ne, onnieku”

~perhatian-perhatian. Untuk seluruh penumpang Seoul air dengan nomor penerbangan….(bla bla bla)~

“sudah saatnya pergi. Hati-hati ya” kata ahjumma lagi dan aku langsung memeluknya lagi. Setahun lagi aku baru bisa pulang setelah selesai sidang skripsi.

“ne, ahjumma” aku melepaskannya dan beralih ke Hyeri onnie yang telah menunggu minta dipeluk.

“I’ll miss you so much, darling” katanya

“me too, baby” jawabku.

Aku melangkah ke lorong menuju pesawat setelah menyerahkan tiket yang telah di sobek bagian tertentunya. Aku melambaikan tanganku ke arah Hyeri dan Ahjumma. Kemudian berjalan lurus sampai ujung lorong ini.

“Ryena-ah! Tunggu!”

Samar-samar aku mendengar sebuah suara memanggilku. Mungkin petugas bagasi mau komplain atau apa karena yang aku dengar bukan suara perempuan. Kalau perempuan aku pasti langsung berfikir kalau itu adalah ahjumma atau Hyeri onnie. Tapi ini suara laki-laki. Aku menoleh ke belakang. Ku dapati seorang namja berjas hitam berlari ke arahku.

‘apa aku mimpi? Siwon-sshi?’

Dia sudah dekat di depanku tapi seolah-olah berlari untuk menubrukku. Dia terengah-engah di hadapanku. Dan aku hanya bisa mematung menyaksikan kedatangannya yang begitu tiba-tiba.

“kau…” kataku tidak percaya.

“Ne… sekretaris yang bilang kalau kau hari ini kembali ke Moscow. Kenapa handphone-mu  bisa ketinggalan sih? Untuk hidungmu menempel, kalau tidak aku yakin pasti tertinggal juga” dia masih ngos-ngosan dia juga masih bisa mengomel seolah-olah aku ini anak kecil yang membeli es krim tapi lupa bayar.

“kau menunggu telephone-ku?” tanyaku masih tak percaya.

“Ne… dan kau masih berhutang padaku. Kau janji akan menelphoneku. Kau harus menelphoneku kalau kau sudah sampai di asrama. Sudah, aku harus mengejar pesawat. Aku mau ke jepang bersama member. Tiga menit lagi. Aku harus lari” dia berbalik dan melangkahkan kakinya menjauhiku. Konyol sekali kan? Dia masuk di area terlarang yang khusus penumpang ini hanya untuk bilang minta ditelephone. Bagaimana dia bisa diijinkan masuk?

“kenapa kau tidak bilang kalau kau artis?”

“baru kau, yeoja Korea yang tidak tahu kalau aku adalah artis populer” walaupun berhenti tapi dia tidak menoleh padaku dan meneruskan larinya. Aku hanya mematung memandang punggungnya.

“hati-hati!” dia berteriak beberapa meter di hadapanku sebelum hilang dari pandangan.

‘ne. kau juga’

Refleks aku mempercepat langkahku. Walaupun hal itu tidak akan mempercepat pesawat berangkat atau melaju, tapi aku tetap melakukannya. Aku bersemangat untuk kembali ke Moscow, aku bersemangat untuk segera men-dial keypad yang ada di ponselku. Aku ingin segera mendengar suaranya. ‘lagi’.

-TBC-

Sebelumnya trimakasih buat Mas Buan yang telah memberi info seputar pendidikan di sana. Heheheh tadinya mau aku perdetail dengan datanya. Tapi gak jadi. Aku cut di beberapa part. Teng kyu ya mas…

Buat reader: di part pertama memang yang lebih banyak ambil bagian Ryena n baru di part terakhirnya lebih banyak tentang Siwon. yang kena tag wajib komen *hehehe maksa…

Hope you like it all…

RCL jangan lupa ya…



13 Comments

Filed under Admin Yuni, romance, superjunior fanfiction

13 responses to “A Few Time to See You

  1. lanjutannya ditunggu ya …

    daebak!

    siwon, kalau dia gamau sama aku aja…

    *plakkkkkkkkkk

  2. kok noona ya? Bukannya eonni?

  3. indah_injae

    yun….kata noena salah tuh harusna onnie….kan kk cwe….klo ade cwe panggil kk/sepupu cwe’a tuh onnie bukan noena….heheheheheh

  4. Choi He bin

    Kereeen…>.<

  5. gomawo udah baca…
    tunggu part berikutnya ya…

  6. hehehehe iy maaaf, udah diralat kok. gomawo udah baca…

    -admin yuni-

  7. huahahahahahaha… maaf salah…

    gomawo udah baca..

    yang gue inget kalau nona itu cewek wkwkwkwkwk

    -admin yuni-

  8. gomawo udah baca…

  9. Azizah

    Seruuu banget…

    lanjutannya aq tunggu ya,hehehe,,,,

  10. hwhwhwhw… Krenn… Hughughughug…. Kpn dilnjutin eonn?? Pnsraaannn….

  11. hw?? Qomenq mnaaa??? Qoqq illllaaaanggg???

  12. yuni_imnida

    @camilla ‘Milly

    Tunggu aja ya. . .
    nanti di share di page jga kok:-)
    Gomawo udah bca. . .

  13. yuni_imnida

    @milly

    itu dua2nya nick kmu? Camilla Milly and Milly?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s